DAMPAK BUDAYA MEROKOK DI INDONESIA BAGI KESEHATAN DAN LINGKUNGAN

Posted: 2011/12/08 in Uncategorized

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.   Latar Belakang

Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang memiliki daya saing yang tinggi baik terhadap sesame masyrakat Indonesia ataupun dengan masyarakat Negara lain. Masyarakat Indonesia memiliki ciri khas lebih menekankan persaingan menuju tercapainya nama baik, namun sering terlupakan bahwa persaingan dewasa ini telah banyak menjerumuskan generasi-generasi muda Indonesia ke lembah-lembah keterpurukan.

Mengadu gengsi adalah penyakit terbesar yang sering kali tidak terfikirkan oleh masyarkat kita.Pdahal,apabila penyakit ini terus tumbuh dalam jiwa-jiwa masyarakat,maka kehancuranlah yang akan kita tuai.Tidak dapat dipungkiri,kita perhatikan akibat masyarakat yang memiliki rasa gengaksi yang tinggi ketika mereka dengan bangganya mengisap batang demi batang dari sebungkus rokok pada saat terjadi interaksi atau perkumpulan.Ketika satu diantara mereka mengisap rokok dan slah satu yang lainnya tidak melakukn hal yang sama,maka yang terfikir dalam benak mereka adalah tidak gaul dan keinggalan zaman.hal inilah yang sekarang menjadi masalah budaya yang negatif di Indonesia.Bukan hanya keterpurukan moral pribadi yang terjadi akibat dari kebiasaan ini,secara tidak langsung budaya seperti itu juga merusak moral bangsa dan bukan tidak mungkin dapat merusak keadaan lingkungan dan kesehatan.

Saat ini, merokok seakan telah menjadi sebuah budaya bangsa ini. Bagaimana tidak, saat ini rokok sudah menjadi milik semua kalangan, baik orang tua maupun anak-anak, baik pria maupun wanita, baik orang kaya maupun orang miskin, baik bos maupun kuli.

Indonesia adalah negara penyumbang asap rokok terbesar di Asia Tenggara. Ini bukanlah sesuatu hal yang main-main. Ini adalah suatu hal yang perlu kita sikapi secara serius. Pada tulisan saya saat ini, saya akan memberikan pandangan saya mengenai budaya merokok, yang menurut saya, adalah sebuah ironi yang sangat menyedihkan

Salah satu inisiatif bahan pertimbangan peningkatan mutu kesehatan di Indonesia, maka penulis mengambil judul “Dampak Budaya Merokok di Indonesia bagi Kesehatan dan Lingkungan”. Pemilihan judul ini menjadi alasan bagi penulis untuk memberikan apresiasi atau kebanggaan terhadap Negara kita  lindinesia,hal ini juga menjadi pertimbangan bagi masyarakat Indonesia dalam rangka peningkatan mutu kesehatan di Indonesia sendiri. Budaya merokok dapat diminimalisir bahkan dapat ditinggalkan merupakan pekerjaan rumah tersendiri bagi setiap indifidu masyarakat Indonesia.

Penyusun memilih judul ini berusaha untuk mengungkap kasus tentang Pelanggaran pelanggaran khususnya untuk para perokok. Mudah-mudahan ini dapat menyadarkan akibat dan bahaya yang ditimbulkan dari rokok bagi para peroko.Lebih dari 70.000 publikasi hasil penelitian medis yang membuktikan pengaruh buruk akibat rokok. Dari data di Indonesia, sebagian besar perokok berasal dari kalangan penduduk miskin. Secara tidak disadari, keluarga miskin meningkatkan alokasi anggaran untuk rokok yang mengakibatkan anggaran untuk makanan pokok harus dikurangi. Bila dalam keluarga semacam ini terdapat anak kelompok balita, akan mengakibatkan kebutuhan gizi yang kurang sehingga dapat menyebabkan penyakit busung lapar.

Sudah merupakan kesepakatan masyarakat dunia untuk membuat Perjanjian Internasional dalam pengendalian rokok, yang dimulai oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara sistematik sejak tahun 1999 dan perumusannya selesai tahun 2003. Indonesia termasuk negara yang aktif memberikan sumbangan pikiran yang melahirkan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC). Namun Indonesia tidak bersedia menandatanganinya pada tahun 2003 oleh karena pemerintah menganggap Indonesia belum siap.Menurut Framework Convention on Tobacco Control (FCTC)-WHO, produk tembakau adalah produk yang dibuat dengan menggunakan seluruh atau sebagian dari daun tembakau sebagai bahan dasar yang diproduksi untuk digunakan sebagai rokok yang dikonsumsi dengan cara dihisap, dikunyah, atau disedot. Produk tembakau ksususnya rokok dapat berbentuk Sigaret, Kretek, Lights, Mild, Cerutu, Lintingan, menggunakan pipa, tembakau yang disedot, dan tembakau tanpa asap.

1.2.   Rumusan Masalah

Sebagai salah satu upaya bagi penulis dalam mewujudkan harapan-harapan yang amat besar tersebut, dan tentunya merupakan hal yang amat sulit,tak semudah membalikkan telapak tangan serta tidak seperti rasa cabai yang ketika digigit saat itu pula terasa rasa pedasnya, maka penulis merumuskan dalam suatu rumusan masalah tentang beberapa faktor yang sangat erat kaitan dan pengaruhnya dalam menyelesaikan makalah yang berjudul  Dampak Budaya Merokok di Indonesia bagi Kesehatan dan Lingkungan ini. Adapun faktor-faktor utama yang akan dibahas ialah :

1.   Aa bahaya dan penyakit yang ditimbulkan akibat merokok?

  1. Bagaimanakah tipe-tipe perokok di Indonesia?
  2. Upaya apa yang dilakukan untuk menenggulangi bahaya rokok bagi kesehatan?
  3. Bagaimanakah budaya merokok di Indonesia?

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.  Definisi Budaya

Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat. (Edward B. Taylor,1998)

Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.( Bounded et.al,1997 )

2.2.   Definisi Rokok

Rokok adalah campuran tembakau dengan kandungan zat yaitu nikotin dan TAR yang dapat menimbulkan bahaya bagi tubuh maupun bagi lingkungan.Bahaya bagi tubuh yaitu bisa mengakibatkan kanker, paru-paru, impotensi dan gangguan pada janin, sedangkan bahaya bagi lingkungan dapat menimbulkan polusi udara yang ditimbulkan dari asap rokok yang dihisap.Sebenarnya yang paling berbahaya diantara perokok pasif dan perokok aktif, perokok pasif lah yang berbahaya sebab perokok pasif menghisap asap rokok yang paling banyak. Rokok juga selain berbahaya juga bisa mematikan dan akan menimbulkan kecanduan kepada pemakainya.Tidak dapat disangkal lagi, rokok adalah racun. Sekecil apapun kadar nikotin yang terkandung di dalam sebatang rokok, itu tetaplah racun yang merusak tubuh penghisapnya. Ironisnya, sekarang tidak sedikit orang yang menjadikan racun tersebut sebagai “kebutuhan pokok” mereka. Dulu, kita mengenal kebutuhan pokok manusia adalah sandang, pangan, dan papan. Sekarang, para perokok menambahkan daftar kebutuhan pokok mereka dengan sesuatu yang seharusnya bukanlah kebutuhan pokok, sesuatu yang pada hakikatnya adalah racun, yaitu rokok.! (Maman,2008)

2.3.   Definisi Kesehatan

            Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan. Pengertian sehat tersebut sejalan dengan pengertian sehat menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1975 sebagai berikut: Sehat adalah suatu kondisi yang terbebas dari segala jenis penyakit, baik fisik, mental, dan sosial.

Batasan kesehatan tersebut di atas sekarang telah diperbaharui bila batasan kesehatan yang terdahulu itu hanya mencakup tiga dimensi atau aspek, yakni: fisik, mental, dan sosial, maka dalam Undang- Undang N0. 23 Tahun 1992, kesehatan mencakup 4 aspek, yakni: fisik (badan), mental (jiwa), sosial, dan ekonomi. Batasan kesehatan tersebut diilhami oleh batasan kesehatan menurut WHO yang paling baru. Pengertian kesehatan saat ini memang lebih luas dan dinamis, dibandingkan dengan batasan sebelumnya. Hal ini berarti bahwa kesehatan seseorang tidak hanya diukur dari aspek fisik, mental, dan sosial saja, tetapi juga diukur dari produktivitasnya dalam arti mempunyai pekerjaan atau menghasilkan sesuatu secara ekonomi.Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan seseorang, kelompok atau masyarakat.Itulah sebabnya, maka kesehatan bersifat menyeluruh mengandung keempat aspek.( Afandi Kusuma,2008)

http://www.m.cybermq.com

2.4.   Definisi Lingkungan

Pengertian lingkungan adalah tempat dimana suatu makhluk hidup itu tumbuh dimana meliputi unsur unsur penting seperti tanah air dan udara, lingkungan sendiri memiliki arti penting dalam kehidupan setiap makhluk hidup, misalnya lingkungan hutan dimana setiap tumbuhan da hewan bisa hidup dengan bebas untuk mencari makan, bisa juga dengan lingkungan perkotaan dimana unsur bangunan sangat kental di dalamnya, dalam hal ini sikap manusia mengenai lingkungan dan dampak dari kegiatan manusia sangat tidak terurus dan terpikirkan, saat lingkungan rusak dan ekosistem hancur maka keseimbangan antara kehidupan dan dengan kehidupan lainnya akan berubah, hal ini memberikan dampak negatif bagi setiap makhluk hidup yang ada disekitarnya. Contoh nyata dari lingkungan yang telah rusak adalah perkotaan , dimana sungai sebagai unsur air dan unsur kehidupan telah tercemar sehingga mengakibatkan matinya kehidupan di air, ikan yang semula bisa bertahan hidup di air yang jernih ini tidak bisa dijumpai lagi karena lingkungan tempatnya hidup sudah tidak mendukung untuk kelangsungannya, selain itu hancurnya lingkungan berdampak juga bagi kehidupan manusia dengan berkurangnya sumber air bersih. Untuk mencegahnya maka perlu segera dilakukannya tindakan prefentif agar dampaknya tidak berlarut larut. Lingkungan pada umunya sudah ditentukan oleh sang pencipta seperti ini namun sudah menjadi kewajiban setiap manusia untuk menjaga dan melestarikanya,Dalam tahapan perkembangan teknologi dan informasi semoga masalah mengenai hancurnya lingkungan tempat kita tinggal bisa segera diatasi, dan juga semoga para pemimpin kita diberikan kesadaran akan pentingnya tempat kita hidup daripada hanya memikirkan uang.

http://www.lintasberita.com/Lifestyle/Pets/pengertian-lingkungan-hidup

BAB III

PEMBAHASAN

3.1.  Bahaya dan Penyakit yang ditimbulkan Akibat Merokok

Meski semua orang tahu akan bahaya yang ditimbulkan akibat rokok, perilaku merokok tidak pernah surut dan tampaknya merupakan perilaku yang masih ditolerir oleh masyarakat. Dalam asap rokok terdapat 4000 zat kimia berbahaya untuk kesehatan, dua diantaranya adalah nikotin yang bersifat adiktif dan tar yang bersifat karsinogenik (Asril Bahar, harian umum Republika, Selasa 26 Maret 2002 : 19). Racun dan karsinogen yang timbul akibat pembakaran tembakau dapat memicu terjadinya kanker. Pada awalnya rokok mengandung 8-20 mg nikotin dan setelah dibakar nikotin yang masuk ke dalam sirkulasi darah hanya 25%. Walau demikian jumlah kecil tersebut memiliki waktu hanya 15 detik untuk sampai ke otak manusia.Nikotin diterima oleh reseptor asetilkolin-nikotinik yang kemudian terbagi ke jalur imbalan dan jalur adrenergik. Pada jalur imbalan, perokok akan merasa nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar. Sementara di jalur adrenergik, zat ini akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan sorotin. Meningkatnya sorotin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. (Agnes Tineke, Kompas Minggu 5 Mei 2002 : 22). Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkan rokok, karena sudah ketergantungan pada nikotin.

Efek dari rokok/tembakau memberi stomulasi depresi ringan, gangguan daya tangkap, alam perasaan, alam pikiran, tingkah laku dan fungsi psikomotor. Jika dibandingkan zat-zat adiktif lainnya rokok sangatlah rendah pengaruhnya, maka ketergantungan pada rokok tidak begitu dianggap gawat (Roan, Ilmu kedokteran jiwa, Psikiatri, 1979 : 33)

Beberapa risiko kesehatan bagi perokok atau dampak dari merokok berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional tahun 2004 antara lain :

 Di Indonesia rokok menyebabkan 9,8% kematian karena penyakit paru kronik dan emfisima pada tahun 2001.

 Rokok merupakan penyebab dari sekitar 5 % stroke di Indonesia.

 Wanita yang merokok mungkin mengalami penurunan atau penundaan kemampuan hamil, pada pria meningkatkan risiko impotensi sebesar 50%.

 Ibu hamil yang merokok selama masa kehamilan ataupun terkena asap rokok dirumah atau di lingkungannya beresiko mengalami proses kelahiran yang bermasalah.

 Seorang bukan perokok yang menikah dengan perokok mempunyai risiko kanker paru sebesar 20-30% lebih tinggi daripada mereka yang pasangannya bukan perokok dan juga risiko mendapatkan penyakit jantung.

 Lebih dari 43 juta anak Indonesia berusia 0-14 tahun tinggal dengan perokok di lingkungannya mengalami pertumbuhan paru yang lambat, dan lebih mudah terkena infeksi saluran pernafasan, infeksi telinga dan asma.

Disamping itu beberapa penyakit akibat merokok menurut Badan POM RI antara lain:

 Penyakit jantung dan stroke.

Satu dari tiga kematian di dunia berhubungan dengan penyakit jantung dan stroke. Kedua penyakit tersebut dapat menyebabkansudden death( kematian mendadak).

 Kanker paru.

Satu dari sepuluh perokok berat akan menderita penyakit kanker paru. Pada beberapa kasus dapat berakibat fatal dan menyebabkan kematian, karena sulit dideteksi secara dini. Penyebaran dapat terjadi dengan cepat ke hepar, tulang dan otak.

 Kanker mulut.

Merokok dapat menyebabkan kanker mulut, kerusakan gigi dan penyakit gusi.

 Osteoporosis.

Karbonmonoksida dalam asap rokok dapat mengurangi daya angkut oksigen darah perokok sebesar 15%, mengakibatkan kerapuhan tulang sehingga lebih mudah patah dan membutuhkan waktu 80% lebih lama untuk penyembuhan. Perokok juga lebih mudah menderita sakit tulang belakang.

 Katarak.

Merokok dapat menyebabkan gangguan pada mata. Perokok mempunyai risiko 50% lebih tinggi terkena katarak, bahkan bisa menyebabkan kebutaan.

 Psoriasis.

Perokok 2-3 kali lebih sering terkena psoriasis yaitu proses inflamasi kulit tidak menular yang terasa gatal, dan meninggalkan guratan merah pada seluruh tubuh.

 Kerontokan rambut.

Merokok menurunkan sistem kekebalan, tubuh lebih mudah terserang penyakit seperti lupus erimatosus yang menyebabkan kerontokan rambut, ulserasi pada mulut, kemerahan pada wajah, kulit kepala dan tangan.

 Dampak merokok pada kehamilan.

Merokok selama kehamilan menyebabkan pertumbuhan janin lambat dan dapat meningkatkan risiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Risiko keguguran pada wanita perokok 2-3 kali lebih sering karena Karbon Monoksida dalam asap rokok dapat menurunkan kadar oksigen.

 Impotensi.

Merokok dapat menyebabkan penurunan seksual karena aliran darah ke penis berkurang sehingga tidak terjadi ereksi.

3.2. Tipe-tipe Perokok

Menurut Silvan Tomkins (dalam Al Bachri,1991) ada 4 tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, keempat tipe tersebut adalah :

1. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif. Dengan merokok seseorang merasakan penambahan rasa yang positif. Green (dalam Psychological Factor in Smoking, 1978) menambahkan 3 sub tipe ini :

a. Pleasure relaxation, perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.

b. Stimulation to pik them up. Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.

c. Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dengan memegang rokok, misalnya merokok dengan pipa.

2. Perilaku merokok yang dipengaruhi oleh perasaan negatif. Banyak orang menggunakan rokok untuk mengurangi perasaan negatif, misalnya bila marah, cemas ataupun gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat.

3. Perilaku merokok yang adiktif. Oleh Green disebut sebagai psychological addiction. Bagi yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang. Mereka umumnya akan pergi keluar rumah membeli rokok, walau tengah malam sekalipun.

4. Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan. Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena benar-benar sudah kebiasaan rutin. Pada tipe orang seperti ini merokok merupakan suatu perilaku yang bersifat otomatis.

Tempat merokok juga mencerminkan perilaku si perokok, yang dapat digolongkan atas :

1. Merokok di tempat umum.

 Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.

 Kelompok yang heterogen (merokok di tengah orang lain yang tidak merokok). Pada tipe ini tergolong sebagai orang yang tidak berperasaan, kurang etis dan tidak mempunyai tata krama, bertindak kurang terpuji serta kurang sopan.

2. Merokok di tempat yang bersifat pribadi

 Di kantor atau di kamar tidur pribadi. Pada tipe ini individu tergolong kurang menjaga kebersihan diri, penuh dengan rasa gelisah yang mencekam.

 Di toilet. Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi.

3.3 Upaya Penanggulangan Bahaya Rokok Bagi Kesehatan dan Lingkungan

Betapa sulitnya memberantas kebiasaan merokok. Hampir semua orang mengetahui bahwa racun nikotin yang terdapat dalam asap rokok membahayakan bagi kesehatan. Bukan hanya untuk perokok itu sendiri melainkan juga untuk orang-orang disekitarnya yang ikut menghisap asap tersebut (perokok pasif). Selain itu, asap rokok juga mengganggu hubungan sosial antara perokok dan bukan perokok.

Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (Psikologi Lingkungan,1992) orang-orang yang merokok tidak mau menghentikan kebiasaannya karena beberapa alasan, antara lain :

 Faktor kenikmatan (kecanduan nikotin).

 Status ( simbol kelaki-lakian).

 Mengakrabkan hubungan sosial sesama perokok.

Pengendalian masalah rokok sebenarnya telah diupayakan diantaranya melalui penetapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) dibeberapa tatanan dan sebagian wilayah Jakarta, Kota Bogor, Kota Cirebon dan sebagainya.Begitu juga beberapa lintas sektor seperti Departemen Perhubungan dengan menetapkan penerbangan pesawat menjadi penerbangan tanpa asap rokok, Departemen Pendidikan Nasional menetapkan sekolah menjadi kawasan tanpa rokok, serta beberapa Pemda yang menyatakan tempat kerja sebagai kawasan tanpa asap rokok.

Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan atau arena yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan produksi, penjualan, iklan, promosi, ataupun penggunaan rokok. Penetapan Kawasan Tanpa Rokok merupakan upaya perlindungan masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok. Penetapan Kawasan Tanpa Rokok perlu diselenggarakan di tempat umum, tempat kerja, angkutan umum, tempat ibadah, arena kegiatan anak-anak, institusi pendidikan dan tempat pelayanan kesehatan.

Tujuan umum dari Kawasan Tanpa Rokok adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat rokok. Sedangkan tujuan khusus penetapan Kawasan Tanpa Rokok adalah :

 Mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan nyaman.

 Memberikan perlindungan bagi masyarakat bukan perokok.

 Menurunkan angka perokok.

 Mencegah perokok pemula.

 Melindungi generasi muda dari penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA).

Disamping itu, manfaat penetapan Kawasan Tanpa Rokok adalah :

 Bermartabat, yakni menghargai dan melindungi hak asasi bukan perokok.

 Ekonomis :

 Meningkatkan produktivitas.

 Mengurangi beban biaya hidup.

 Menurunkan angka kesakitan.

 Menciptakan tempat umum, sarana kesehatan, tempat kerja, institusi pendidikan, arena kegiatan anak-anak, tempat ibadah dan angkutan umum yang sehat, aman dan nyaman.

Dari keterkaitan berbagai aspek yang ada dalam permasalahan merokok, maka penanggulangan masalah merokok bukan saja menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan tanggung jawab berbagai sektor yang terkait dengan minimal menetapkan Kawasan Tanpa Rokok di tempat kerja masing-masing. Penetapan Kawasan Tanpa Rokok diberbagai tatanan dapat diwujudkan melalui penggalangan komitmen bersama untuk melaksanakannya. Dalam hal ini peran lintas sektor sangatlah penting untuk menentukan keberhasilan dari penetapan Kawasan Tanpa Rokok sebagai salah satu upaya penanggulangan bahaya rokok.

Rendahnya kesadaran masyarakat tentang bahaya rokok menjadi alasan sulitnya penetapan Kawasan Tanpa Rokok yang ditunjukkan dengan keadaan hampir 70% perokok di Indonesia mulai merokok sebelum umur 19 tahun. Bahkan data Susenas (Survei Sosial Ekonomi Nasional) 2003 meyebutkan usia 8 tahun sudah mulai merokok.

3.4 Kebiasaan  Merokok di Indonesia yang Menjadi Budaya

            Kebiasaan masyarakat Indonesia yang menjadi budaya atau menjadi pendidikan negatif terhaddap tingkh laku yang mempengaruhi pada pola kesehatan masyarakat di masa mendatng salah satunya adalah :

  1. a.    Kebiasaan merokok di sekolah

Kebiasaan merokok di Indonesia sudah tertanam sejak usia dini.Kebiasaan merokok di lingkungan pendidikan katakanalah sekolah menjadi salah satu bukti bahwa kebiasaan merokok di Indonesia sudah menjadi budaya.kebiasaan ini telah menjadi pendidikan budaya awal yang setidaknya dapat mempengaruhi perilaku dan moral anak bangsa.dunua sekolah yang seharusnya memiliki fungsi untuk menanamkan moral ank bangsa justru beralih fungsi sebagai tempat pendidikan penanaman budaya yang mengarahkan pada kemerosotan moral.permasalahan terbessar dalam menghadapi masalah ini adalah guru yang seharusnya menjadi panutan sering kali memberi contoh kebiasaan jelek merokok ini di lingkungan sekolah.

Kesadaran awal akan bahaya merokok seharusnya ditanamkan melaui pendidikan dan sosialisasi di lingkungan sekolah.karakter-karakter peserta didik harus ditumbuhkan menuju a rah yang lebih baik sejak dini melalui pengenalan secara teori dan contoh perilaku.Perilaku ini yang sangat menjaditolak ukur akan tingkah laku para peserta didik Indonesia di kemudian hari pada saatnya mereka berinteraksi langsung dengan lingkungan masyarakat.Ketegasan dari seorang guru dalam memberikan tindakan terhadap pelanggaran merokok di sekolah.Ketegasan ini tidak hnya bagi para peserta didik saj,melainkan semua yang terlibat berkecimbung di institusi sekolah tersebut harus mendapatkan sanksi yang sama apabila terjadi pelanggaran.

  1. Balita Merokok, Meniru Orang Tua

Balita cenderung meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Keluarga dan lingkungan perokok menjadi alasan utama mengapa balita merokok. Ditambah lagi jika balita mendapat tepukan tangan dari orang-orang sekitar ketika menunjukkan aksi merokoknya. Alih-alih berhenti, sang balita malah semakin hanyut dalam kecanduannya.Menurut Kak Seto Mulyadi, setidaknya butuh 2,5 tahun untuk memulihkan balita dari kecanduan merokok. Hal ini beliau ungkapkan ketika menangani kasus AR, balita berusia 2,5 tahun yang ketagihan merokok dan sanggup mengisap 40 batang rokok setiap harinya.

Terapi yang digunakan Kak Seto untuk mengobati kecanduan balita merokok adalah dengan bermain. Secara bertahap, intensitas merokok AR dikurangi  dan dialihkan melalui permainan yang disukainya. Beliau optimis, jika terapi ini terus dijalankan, maka lambat laun AR akan terlepas dari kebiasaan merokoknya.

Sebanyak 90% dari ayah perokok mengaku merokok di rumah ketika seluruh anggota keluarganya berkumpul. Menurut riset yang dilakukan oleh American Association for Cancer Research, semakin muda usia anggota keluarga, maka penyerapan racun asap rokok ke dalam tubuhnya pun sebagai besar. Balita dan anak-anak di bawah 6 tahun ternyata memiliki kadar nikotin 12% lebih tinggi daripada orang dewasa yang  terpapar polusi asap rokok di rumahnya.Pada tahun 2006, UNICEF mengungkapkan fakta bahwa sebanyak 32,4 ribu balita meninggal akibat perilaku merokok orang tuanya. Hasil riset  American Journal of Public Health (2008) juga mengungkapkan bahwa angka kematian balita di lingkungan orang tua merokok lebih tinggi daripada angka kematian balita di lingkungan orang tua yang bukan perokok.

Jelas sudah bahwa budaya merokok, selain menjadi penyebab balita merokok, tapi juga meningkatkan angka kematian balita akibat terpapar polusi asap rokok. Angka kematian ini bisa dikurangi jika masyarakat sadar dan peduli untuk merokok di tempat khusus perokok (smoking area) atau menghilangkan kebiasaan merokoknya.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

  1. Dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan non fisik keluarga, hubungan orang tua-anak yang serasi menunjukkan adanya kemampuan orang tua untuk mendeteksi gejala yang memungkinkan timbulnya permasalahan pada anak. Dengan demikian diharapkan kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok dapat dimulai terlebih dahulu dari dalam lingkungan keluarga karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat.
  2. Tidak merokok di dalam rumah merupakan salah satu bentuk dari Perilaku Hidup Bersih Sehat dalam bidang Gaya Hidup Sehat. Jika di dalam rumah terdapat keluarga yang merokok maka dapat mengakibatkan ruangan terasa pengap, akibatnya keadaan di dalam rumah menjadi tidak nyaman. Oleh karena itu dalam upaya peningkatan kualitas lingkungan fisik keluarga perlu adanya upaya menciptakan rumah yang sehat antara lain dengan mengatur kualitas sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik.
  3. Dengan ditetapkannya Kawasan Tanpa Rokok diharapkan perokok tidak merokok di tempat-tempat ramai atau tempat-tempat umum sehingga tidak merugikan orang lain yang ada disekitarnya.

4.2. Saran

            Mari kita jauhi rokok, Karena dapat mendekatkan kepada narkoba, sayangilah dirimu dengan menjaga tubuhmu dan lingkunganmu.Mulailah tinggalkan budaya merokok supaya tercapi lingkungan dan jiwa yang sehat sebagai bekal di masa yang akan datang dan bermanfaat bgi diri sendiri,masyarakat dan Negara.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.anneahira.com/balita-merokok.htm 

http://www.dinkeskabtangerang.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=17&Itemid=29

http://www.doktersehat.com/2010/01/07/kanker-mulut-tanda-pencegahan/

http://www.id.wikipedia.org/wiki/Budaya

http://www.infopenyakit.com/2008/06/penyakit-kanker-paru-paru.html

http://www.jevuska.com/topic/budaya+merokok+remaja+di+indonesia.html

http://www.lintasberita.com/Lifestyle/Pets/pengertian-lingkungan-hidup

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran :

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s